DelapanDetik.Com – Pemantauan kualitas air di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, kini semakin modern dengan hadirnya Water Quality Monitoring System (WQMS) yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Teknologi ini memungkinkan kondisi kualitas air sungai dipantau secara real-time dan berkelanjutan untuk mendukung pengelolaan lingkungan serta perencanaan pembangunan daerah berbasis data.
Pemanfaatan WQMS diresmikan pada Rabu (14/10/2026) di Stasiun Pemantauan Kualitas Air Sungai Cianjur Leutik. Kehadiran sistem tersebut diharapkan membantu pemerintah daerah memperoleh informasi kondisi air secara lebih cepat, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya air dan pengendalian pencemaran.
Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN, Budi Prawara, menyampaikan penerapan WQMS merupakan bentuk pemanfaatan teknologi dan hasil riset untuk menjawab kebutuhan pembangunan daerah. Melalui sistem ini, pemantauan kualitas air dapat dilakukan secara real-time dan berkelanjutan, sehingga informasi kondisi lingkungan dapat diakses secara lebih efektif.
“WQMS dapat menjadi instrumen pendukung bagi Pemerintah Kabupaten Cianjur dalam mengevaluasi kondisi kualitas air, menentukan prioritas pemantauan, serta menyusun kebijakan dan program pembangunan lingkungan yang lebih tepat sasaran,” katanya.
Keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang dibangun, tetapi juga keandalan data, keberlanjutan operasional, dan pemanfaatannya dalam pengambilan keputusan.
“Karena itu, kolaborasi BRIN dengan Bapperida, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan perangkat daerah terkait diperlukan untuk memastikan sistem dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” jelas Budi.
Teknologi Sensor untuk Memantau Kualitas Air
Koordinator kegiatan penelitian dan pengembangan WQMS, Goib Wiranto, menjelaskan bahwa sistem ini mengintegrasikan sejumlah sensor untuk mengukur parameter kualitas air secara kontinu. Hasil pengukuran kemudian diolah menjadi informasi yang dapat diakses pengguna melalui dashboard berbasis web.
Pengukuran tersebut memungkinkan pengguna mengamati perubahan kondisi air dari waktu ke waktu tanpa harus selalu mengambil sampel dan melakukan pengukuran manual di lokasi.
WQMS dilengkapi flow cell sebagai tempat pengukuran sampel air serta tiga sensor utama. Sensor pH digunakan untuk mengukur tingkat keasaman atau alkalinitas air, sensor DO untuk mengukur kadar oksigen terlarut, sedangkan sensor EC mengukur kemampuan air menghantarkan listrik sebagai indikator kandungan ion terlarut.
“Sampel air dialirkan melalui sistem perpipaan dan pompa yang dikendalikan secara otomatis. Data hasil pengukuran kemudian dikirim melalui jaringan komunikasi 4G atau internet ke server dan basis data, sebelum ditampilkan melalui dashboard berbasis web,” tuturnya.
“Melalui sistem ini, pengguna dapat memantau kondisi air dari jarak jauh, melihat visualisasi parameter, menganalisis tren perubahan, serta mengevaluasi kondisi operasional perangkat,” imbuh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Elektronika BRIN ini.
Dukung Kebijakan Lingkungan Berbasis Data
Data yang dihimpun WQMS dapat membantu Pemerintah Kabupaten Cianjur mengidentifikasi indikasi perubahan kualitas lingkungan, menentukan lokasi yang perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut, serta merencanakan langkah pengendalian pencemaran.
Informasi ini dapat menjadi masukan teknis bagi Bapperida Kabupaten Cianjur dalam menyusun perencanaan pembangunan, menentukan prioritas program lingkungan, dan mengevaluasi kebijakan berbasis bukti.
Meski demikian, Goib menegaskan hasil pemantauan WQMS merupakan informasi pendukung. Penetapan status mutu air dan kesimpulan mengenai kepatuhan terhadap baku mutu tetap harus mengacu pada ketentuan yang berlaku dan menggunakan metode pengujian yang sesuai, termasuk verifikasi melalui pengambilan sampel dan pengujian laboratorium apabila diperlukan.
Pengembangan dan Evaluasi WQMS
Pada tahap awal 2026, kegiatan mencakup pengoperasian dan evaluasi sistem percontohan di Sungai Cianjur Leutik. Evaluasi dilakukan untuk menguji keandalan sensor, kalibrasi, kestabilan pengukuran, kontinuitas transmisi data, ketahanan perangkat di lapangan, serta kesesuaian hasil pengukuran dengan data pembanding.
Ke depan, WQMS direncanakan dikembangkan menjadi jaringan pemantauan dengan lebih banyak titik dan parameter. Selain parameter yang telah tersedia, sistem dapat dilengkapi sensor kekeruhan (turbidity), tinggi muka air (water level), debit aliran, dan parameter lingkungan lainnya sesuai kebutuhan dan kelayakan teknis.
Pengembangan selanjutnya mencakup integrasi dengan Sistem Informasi Geografis (GIS), analisis tren dan anomali, notifikasi dini, serta dashboard terpadu untuk dimanfaatkan Bapperida dan perangkat daerah terkait.
“Dalam jangka panjang, data WQMS juga berpotensi mendukung integrasi dengan sistem peringatan dini banjir dan longsor serta sistem informasi kebencanaan nasional melalui dukungan sensor dan sumber data tambahan yang relevan,” jelas Goib.
Melalui pengembangan dan pemanfaatan secara berkelanjutan, WQMS diharapkan dapat berkembang dari perangkat pemantauan kualitas air menjadi infrastruktur informasi lingkungan yang terintegrasi.
Kolaborasi BRIN, Bapperida, DLH, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk menjaga validitas data, keberlanjutan operasional, serta optimalisasi pemanfaatan hasil riset dalam mendukung pengelolaan lingkungan dan pembangunan daerah di Kabupaten Cianjur. (Sumber: brin.go.id)
