DelapanDetik.Com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama UNDP Indonesia berkolaborasi meningkatkan produktivitas budi daya rumput laut Gracilaria di Sidoarjo, Jawa Timur, dengan melakukan rehabilitasi tambak, penyediaan bibit unggul, penguatan sarana produksi dan pascapanen, hingga mendorong investasi di bidang pengolahan.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya KKP, Tb Haeru Rahayu (Tebe) menerangkan, pengembangan budi daya Gracilaria memiliki prospek besar karena permintaan rumput laut di pasar global pada 2029 juga diproyeksikan mencapai 40–43 juta ton.
Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai produsen rumput laut terbesar kedua dunia, dengan volume produksi pada 2024 mencapai 9,8 juta ton. Dari jumlah tersebut, Gracilaria menyumbang sekitar 16,5 persen produksi di 15 provinsi produsen utama.
Tebe merinci, produksi Gracilaria di Jawa Timur tercatat sebanyak 31.947 ton yang dihasilkan melalui sistem polikultur bersama ikan bandeng.
“Potensinya tidak berhenti pada produksi. Hulu harus diperkuat, kemudian hilirisasinya juga perlu terus didorong agar muncul investasi dan industri pengolahan yang bisa memberikan nilai tambah lebih besar,” ujar Tebe dalam siaran resmi di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
KKP telah memberikan sejumlah dukungan untuk memperkuat usaha pembudidaya, antara lain dua unit ekskavator untuk mendukung perbaikan tambak, bibit Gracilaria unggul, benih bandeng, serta dukungan pembiayaan. Selanjutnya, penguatan diarahkan agar produksi di tingkat pembudidaya semakin terhubung dengan industri pengolahan.
Tebe menambahkan, dua UPT Ditjen Perikanan Budi Daya di Pulau Jawa yakni BPBAP Situbondo dan BBPBAP Jepara pun akan diarahkan untuk mengembangkan teknologi pembibitan Gracilaria berbasis spora, sehingga penyediaan bibit semakin dekat dengan sentra-sentra produksi rumput laut di Pulau Jawa.
Selama ini, teknologi pembibitan berbasis spora telah berjalan di Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar, yang juga milik KKP.
“Tahun ini telah dikirimkan sekitar 2 ton bibit Gracilaria hasil teknologi spora ke Sidoarjo. Harapannya bibit ini dapat terus dikembangkan dan diperbanyak sehingga pembudidaya memiliki sumber bibit berkualitas,” tambah Kepala Balai Perikanan Budi Daya Air Payau Takalar, Boyun Handoyo.
Resident Representative UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella menilai perbaikan pengelolaan bibit, proses panen, dan pengolahan menjadi bagian penting untuk meningkatkan nilai yang diterima pembudidaya.
Keterlibatan sektor swasta, investor, dan industri juga diperlukan untuk mendukung koperasi melakukan diversifikasi produk, memperkuat pengolahan, serta memperluas akses produk rumput laut Indonesia ke pasar global.
“Indonesia merupakan produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, dan Sidoarjo relevan dalam potensi besar tersebut. Selanjutnya, hilirisasi perlu diperkuat agar rumput laut dapat menghasilkan lebih banyak produk dan nilai tambah di dalam negeri,” kata Sara.
