Dosen UIN SUNA Lhokseumawe Pelajari Pendekatan Baru Kajian Sejarah Di Maroko

MAROKO — Dosen UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe, Dr. Saifuddin Dhuhri, Lc., MA., mendalami pendekatan baru dalam kajian sejarah melalui materi working with digital archives dalam program Short Course Overseas Kementerian Agama di Rabat, Maroko, 11–23 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Dr. Arskal Salim sebagai pembuka sekaligus pembicara utama, serta Prof. Dr. Eka Srimulyani sebagai instruktur utama. Materi pelatihan menyoroti pentingnya arsip digital dan pendekatan social codicology dalam memahami sejarah, manuskrip, serta hubungan antara teks dan masyarakat.

Dalam konfirmasi langsung dari Maroko pada Jumat (16/10/2026), Dr. Saifuddin Dhuhri, Lc., MA. menjelaskan bahwa pembelajaran tentang arsip membuka perspektif baru mengenai cara memahami sumber sejarah. Menurut dia, arsip tidak hanya berkaitan dengan dokumen yang tersimpan di perpustakaan atau folder digital, tetapi juga mencakup berbagai benda yang menyimpan informasi, seperti manuskrip, prasasti, surat perjanjian, hingga benda-benda bersejarah lainnya. “Kajian arsip tidak cukup berhenti pada benda atau teks yang tersimpan. Kita juga perlu memahami bagaimana arsip itu hidup, dimaknai, dipelihara, dan diwariskan dalam masyarakat,” demikian inti pandangan yang disampaikan dalam materi tersebut.

Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah penjelasan mengenai keterbatasan arsip fisik. Dalam sesi yang dipandu instruktur Meyer Verena, peserta diajak memahami bahwa manuskrip berharga tidak selalu mudah diakses oleh peneliti maupun masyarakat umum. Keterbatasan itu dapat disebabkan kondisi fisik naskah, lokasi penyimpanan, maupun aturan dan keyakinan keluarga atau komunitas pemiliknya. ” Melalui sebuah contoh tentang manuskrip yang akhirnya dibakar karena persoalan kewenangan untuk merawat dan memberikan akses, peserta diajak melihat bahwa hilangnya arsip bukan hanya persoalan kerusakan benda, tetapi juga berkaitan dengan relasi sosial, otoritas, dan keputusan manusia” jelas Saifuddin.

Pembahasan kemudian beralih pada social codicology, pendekatan yang tidak hanya mengkaji karakter material manuskrip, tetapi juga menelaah hubungan antara naskah, pemilik, komunitas, dan lingkungan sosialnya. Pendekatan ini membantu peneliti mempertanyakan siapa yang berhak mengakses manuskrip, siapa yang menentukan cara perawatannya, serta bagaimana sebuah teks dipertahankan atau justru dilupakan. Dalam diskusi tersebut, pengalaman Saifuddin mengakses manuskrip Lontar Smarāgamā di Bali turut menjadi ilustrasi mengenai bagaimana kepercayaan dan otoritas adat dapat memengaruhi akses terhadap warisan tertulis.

Menurut materi yang dibahas dalam pelatihan, digitalisasi dapat memperluas akses terhadap arsip dan membantu mengurangi risiko hilangnya informasi akibat kerusakan fisik. Meski demikian, digitalisasi tetap membutuhkan izin, penghormatan terhadap pemilik dan komunitas, serta tata kelola yang bertanggung jawab. Arsip digital tidak otomatis menghapus persoalan akses dan kepemilikan. Karena itu, pendekatan kodikologi klasik yang menelaah aspek material naskah tetap penting, tetapi perlu dilengkapi kajian sosial untuk memahami kedudukan manuskrip dalam kehidupan masyarakat.

Bagi Saifuddin, pembelajaran tersebut memberikan perspektif penting bagi pengembangan penelitian sejarah dan manuskrip, termasuk kajian warisan intelektual Islam di Nusantara. Arsip, dalam pendekatan ini, tidak semata-mata dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang menyimpan ingatan, identitas, dan pengetahuan masyarakat.

”Program Short Course Overseas di Rabat diharapkan memperluas wawasan akademik peserta serta mendorong pengembangan penelitian sejarah yang tidak hanya membaca isi naskah, tetapi juga memahami manusia dan lingkungan yang membuat naskah itu tetap hidup”. tuturnya (man)



Source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *